Diterpa Isu Ijazah Palsu, Dulmusrid Beri Penjelasan
IstimewaSingkil – Calon Bupati Aceh Singkil, Dulmusrid, akhirnya angkat bicara setelah memenuhi panggilan Panitia Pengawas Pemilihan (Panwaslih) terkait dugaan ijazah palsu yang dilaporkan oleh masyarakat.
Dalam konferensi pers di Gosong Telaga Barat, Kecamatan Singkil Utara, Rabu (2/10/2024), Dulmusrid dengan tegas membantah tuduhan tersebut dan memastikan bahwa ia benar-benar lulus dari SMA Negeri Lipat Kajang, Kecamatan Simpang Kanan, Aceh Singkil.
"Saya datang untuk klarifikasi dan sudah menyerahkan semua dokumen resmi. Ijazah pengganti dari Kepala Dinas Pendidikan serta surat keterangan dari kepolisian telah saya serahkan. Ini adalah fakta, bukan sekadar klaim," ucap Dulmusrid di hadapan media.
Yang menarik, Dulmusrid mempertanyakan keabsahan bukti yang dipegang oleh pelapor.
Ia terkejut saat mengetahui pelapor membawa salinan ijazah yang hilang, sesuatu yang menurutnya tidak pernah ia serahkan.
"Ini yang membuat saya bingung, bagaimana mungkin pelapor memiliki salinan ijazah saya yang hilang, padahal saya sendiri tidak pernah memberikannya kepada siapapun?" ujar Dulmusrid, dengan nada penuh tanda tanya.
Meski dihantam dengan tuduhan serius, Dulmusrid tetap optimistis.
Ia menyatakan siap menghadapi setiap tudingan, sembari menegaskan bahwa ijazah tersebut telah digunakan dalam berbagai kesempatan, termasuk ketika menjabat sebagai anggota DPRK dan Bupati Aceh Singkil periode 2017–2022.
Ketua Panwaslih Aceh Singkil, Irwansyahrizal, menjelaskan bahwa panggilan terhadap Dulmusrid dilakukan setelah pihaknya menerima laporan masyarakat mengenai keabsahan ijazah.
"Kami telah mengumpulkan keterangan dari berbagai pihak, termasuk Dinas Pendidikan dan Kepala Sekolah SMA Negeri Lipat Kajang," ujarnya.
Meskipun proses klarifikasi sudah selesai, Panwaslih belum mengeluarkan keputusan final.
"Keputusan akan diambil dalam rapat pleno beberapa hari ke depan," tambah Irwansyahrizal.
Kasus ini kian memanaskan suasana Pilkada Aceh Singkil 2024.
Dulmusrid, sebagai salah satu kandidat terkuat, kini harus berhadapan dengan isu sensitif yang bisa mempengaruhi langkah politiknya.(**)
(Fandi Perdana)















Komentar