Sportivitas Dipertanyakan: Kerusuhan PON Memalukan Aceh Sebagai Tuan Rumah
ANTARA FOTO/Adeng Bustomi/prasPerbincangan mengenai insiden tersebut ramai dibahas di berbagai warkop dan grup WhatsApp, seperti grup "Silaturahmi Aceh Besar".
Sejak semalam hingga siang ini, perdebatan masih berlangsung, dengan beberapa anggota grup yang menilai bahwa permainan Aceh sudah sangat baik, terutama dari tiga pemain asal Aceh Besar.
Namun, kerusuhan itu justru mencederai prestasi mereka.
Di media sosial, pro dan kontra terus mengemuka. Ada yang menyalahkan perangkat pertandingan karena tidak tegas, sementara yang lain mengkritik perilaku penonton yang dinilai terlalu emosional.
"Kalau mau jujur, permainan sepak bola Aceh sudah bagus. Tapi, insiden ini membuat kita malu sebagai tuan rumah," ujar salah satu pengguna media sosial.
Masyarakat berharap ada perbaikan dalam pengelolaan perangkat pertandingan dan edukasi kepada penonton agar tidak mudah terprovokasi.
Fadil, salah satu penonton, menyampaikan kekecewaannya dengan situasi tersebut, menilai bahwa tradisi Aceh dalam menyambut tamu, yaitu pemulia jame, menjadi pudar gara-gara pertandingan sepak bola.
"Kalah itu biasa, asal tetap menjunjung tinggi sportifitas. Dimana slogan pemulia jame adat geutanyoe? Ini jelas memalukan," tegasnya.
Warga lainnya, Tarmizi, juga menyampaikan pendapat serupa. "Orang Aceh pantang curang. Lebih baik kalah tapi terhormat. Untuk apa menang dengan cara seperti ini?" katanya, menyindir tindakan yang tidak sportif di pertandingan tersebut.
Dedek KTB, seorang pemerhati sepak bola, juga turut menyarankan agar panitia PON lebih bijaksana dalam menyikapi situasi ini.
"Solusinya, seharusnya pertandingan diulang selama 30 menit lagi karena permainan semalam belum selesai. Baik pemain Aceh maupun Sulawesi Tengah tidak puas dengan hasil semalam," tutupnya















Komentar